Pages

Friday, May 6, 2016

Pertanyaan Paling Mendebarkan

Assalaamu'alaikum wr wb..

Pagi yang cerah, semoga kita bisa mengisinya dengan berbagai hal yang memberikan manfaat dan keberkahan untuk sesama, aamiin.

Oh iya.. saya mau berbagi pengalaman hidup nih..lebih jelasnya sih ini curhatan temen, tapi insya Alloh udah dapet izin, yang penting identitas si tokoh utama kita ini nggak di ekspos ke publik (aduh, bahasa lebay macam apa inih?..heheh).

Oke, kita simak yu..

Membahas tentang sebuah pertanyaan yang mendebarkan, sepertinya dulu saya pernah mengalaminya. Iya, saat itu tes ujian lisan di sekolah, hehehe. Tapi, ada yang lebih mendebarkan dari sekedar soal ujian.

Tepatnya mungkin setahun yang lalu. Saat itu, secara mengejutkan, saya mendapat sms dari seseorang. 

Sebenarnya bukan orang yang pesial, lebih tepatnya, seorang kakak kelas waktu zaman SMP dulu.

"Dek, Kalau suatu saat kakak khitbah kamu, kira-kira kamu siap nggak?" Saya pun dibuat kaget seketika, berdebar tak karuan. Andai saja dia mengatakannya langsung dihadapan saya, entah ekpresi seperti apa yang harus saya tunjukkan padanya. Untung aja pertanyaan sakti itu dia lemparkan melalui sms, bisa dibayangkan betapa tak karuannya wajah saya ketika berhadapan dengannya langsung.

Ah, seneng banget rasanya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dan hati ini pun mulai berangan-angan akan masa depan bersamanya, membangun rumah tangga yang samawa, memiliki putra-putri yang soleh-solehah. Karena nggak bisa dipungkiri, sejauh ini saya sedikit banyak sudah mengamati sang kakak kelas ini. Kecerdasannya, kedermawanannya dan silsilah keluarganya yang baik, udah jelas banget bisa bikin saya berharap bahwa dia nanti bisa menjadi imam yang baik di masa depan.

Saat itu, saya bingung mau jawab apa. Yang pasti, sebisa mungkin saya menyembunyikan rasa seneng yang luar biasa ini,deregdeg surser nggak karuan, karena saya nggak punya keberanian dan terlalu malu buat ngomong to the point kaya orang lain. Tapi dari cara saya merespon setiap pertanyaannya..saya rasa, dia tahu dengan jelas apa jawaban saya. Kalo dia nggak ngerti juga, berarti ada yang nggak beres di otaknya.

Secara nggak langsung saya jawab "ya". Kenapa nggak langsung bilang aja? Yah..itu dia, mungkin  inilah saya, lucu kalo spontan bilang "ya" tanpa basa-basi, malu.. hehe.

Sementara si kakak kelas masih disibukkan dengan kegiatan belajarnya, saya juga tak kalah sibuknya. Sibuk berharap dan dan berkhayal nggak jelas tentang angan-angan masa depan.

**Hingga setahun kemudian


Si kakak kelas membahas kembali persoalan tentang pernikahan, tapi kali ini entah siapa yang jadi tokoh utamanya.

"Dek, do'ain kakak yah, insya Allah 2 tahun ke depan kakak mau memantapkan diri untuk menikah". Mendengar perkatannya, seketika saya merasa heran..loh dia ngomong seolah-olah minta dukungan? bukannya waktu itu dia sendiri yang meminta saya untuk menjadi pandampingnya di masa depan?

Saat itu banyak banget pertanyaan yang pengen saya tanyain sama dia. Mungkin saya berlebihan, tapi rasanya dada ini kayak mau meledak. Saya memberanikan diri untuk bertanya "Calon isterinya orang mana kak?", bukannya menjawab, dia cuma ngasih  jawaban ngambang "siapapun itu, insya Allah pasti yang terbaik dari Alloh".

YA Alloh, apa ini? Saya makin nggak ngerti, sebenernya maksud dia tuh apaaan sih?Bukannya dia sendiri yang mulai?bukannya dia yang punya niat mulia untuk bisa mengkhitbahku? Ah, ini nggak bener!

Sakit hati sih nggak, cuman..nggak tau kenapa, tiba-tiba perasaan aneh ini mengganggu banget. Sedikit kesal sih iya, tapi ya gimana..orang kita nggak ada hubungan apa-apa juga kok..Terus, ini gimana inih? Sebenernya yang oon siapa sih?

Mungkin saya yang terlalu ke ge-eran. Dia itu kayaknya nggak bakalan kesulitan buat milih calon isteri, cewek-cewek anak tetangga sekampung mungkin bakalan rela antri panjang ikutan audisi pemilihan kandidat calon isteri buat dia..nah, kalo dia tau saya merasa sedikit kecewa, mungkin kata dia :"ari maneh teh saha?".

Ya sudahlah, saya cukup tau diri kok..mungkin saya yang terlalu ngarepin dia. Mungkin saat itu dia lagi latihan dialog buat lamaran calon isterinya nanti (ah, mikir kaya gini rasanya jadi tambah sesek aja ini dada). 

Oke, saya ngerti. Anggap aja angin lalu, tapi yang namanya kita udah terlanjur ngarep & nunggu, gimana dong? ah, mulai lembek lagi deh.

Nggak cukup sampe di situ doang, kedongkolan ini makin bertambah pas dia berniat mau ngenalin saya sama temennya. Ini gimana ceritanya, si kakak kelas ini bikin hati saya nggak karuan! emangnya dia siapa sampe berani coba-coba meluluh lantahkan hati yang rapuh ini?

Sekitar sebulan yang lalu, dia bilang :"de, ada temen kakak yang minta pin bb kamu..katanya mau ta'aruf, kalau Alloh meridhoi, Insya Alloh dia imam yang baik untuk kamu nanti, kakak kenal banget, di orangnya baik banget kok".

Terus, saya mesti gimana dong? *ah, terserah lah..(dalam hati, da ngomong secara langsung mah nggak berani). Saya cuma bilang dengan perasaan kesal (yang jelas, keselnya disembunyiin dong): "oh, ya udah sok aja..lagian menjalin silaturahmi dan banyak temen itu bagus kan?".

Padahal pengen banget rasanya ngomong langsung :"hey, apa-apaan ini? Selama ini saya nunggu kamu, kok malah jadi acara perjodohan kayak gini sih? Maaf, ini bukan cerita FTV atau sinetron percintaan kayak di tivi-tivi, ambil keputusan yang tegas!
 
Kalo dipikir-pikir, sejak dulu saya nggak pernah berharap banyak sama dia, toh perasaan pun biasa-biasa aja. Tapi karena dia yang memulai, hati ini pun jadi tersentuh. Gimana nggak, ketika seorang cewek dalam masa penantian..tiba-tiba ada seorang lelaki yang dengan sukarela menawarkan diri untuk menjadi imam di masa depan..terlebih lelaki itu kita anggap pantas dan bisa membimbing kita nanti. Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang wanita? rasanya nggak ada pilihan lain selain tekan tombol "yes".

Tapi, dengan adanya kejadian ini, saya belajar banyak. Saya nggak akan percaya begitu aja sama lelaki yang omongannya sekarung goni, tapi action-nya nol besar. Nggak perlu gembar-gembor ngomong ini itu, saya cuma akan lihat sejauh mana dia serius membuktikan niatnya untuk menjadikan saya sebagai pendamping hidupnya, itu aja.

Dan, pesan saya buat kamu ikhwan-ikhwan yang baik hati, sesuai gambar di atas..terutama buat kamu, iya kamu!: " Jangan membuat seseorang berharap dan bahkan jatuh cinta, jika kamu nggak berniat untuk menikahinya!!".

Wassalaam.. :)

*Sumber : Identitas tidak dipublikasikan demi kepentingan privasi.

No comments:

Post a Comment